Minggu, 10 Juni 2012


17:24 | Author: Soleh Amini Yahman, M.si. PSi

Drs. Soleh Amini Yahman. MSi.

Hal hal yang kita bicarakan pada pembahasan terdahulu (baca : sub bab :Persepsi Sosial) adalah hal-hal yang terkait dengan bagaimana kita membentuk kesan atas kehadiran orang lain secara dangkal. Dalam kehidupan kita sehari hari kita tidak hanya berhungan dengan kesan skilas di saat kita berjumpa dengan orang. Kita ingin sekali memahami perilaku orang lain sevcara mendalam, kenapa orang berperilaku dengan cara atau hasil tertentu. Upaya untuk memahami penyebab ini sangat terkait dengan proses Atribusi.

Kajian tentang atribusi pada awalnya dilakukan oleh Fritz Haider (1925). Menurut Haider, setiap individu pada dasarnya adalah seorang ilmuwan semu (pseudo scientist). Yang berusaha untuk mengerti tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan-potongan informasi sampai mereka tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab-sebab orang lain bertingkah laku tertentu. Dengan kata lain seseorang itu selalu berusaha untuk mencari sebab kenapa seseorang berbuat dengan cara-caratertentu. Misalkan kita melihat ada seseorang melakukan pencurian. Sebagai manusia kita ingin mengetahui penyebab kenapa dia sampai berbuat demikian. Dua focus perhatian di dalam mencari penyebab suatu kejadian, yakni sesuatu didalam diri atau sesuatu di luar diri. Apakah orang tersebut mlakukan pencurian karena sifat dirinya yang memang suka mencuri, ataukah karena factor diluar dirinya, dia mencuri karenadipaksa situasi, misalnya karena dia harus punya uang untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit keras. Bila kita (individu) melihat/menyimpulkan bahwa seseorang itu melakukan suatu tindakan karena sifat-sifat kepribadiannya (suka mencuri) maka kita (individu) tersebut melakukan atribusi internal (internal attribution). Tetapi jika kita (individu) melihat atau menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh seseorang dikarenakan oleh tekanan situasi tertentu (misalnya mencuri untuk beli obat) maka kita melakukan atribusi ekternal (external attribution)
Proses atribusi telah menarikperhatian para pakar psikologi sosia dan telah menjadi objek penelitian yang cukup intensif dalam beberapa decade terakhir. Cikal bakal teori atribusi berkembang dari tulisan fritz Heider ( 1958) yang berjudul “Psychology of Interpersonal relations”Dalam tulisan tersebut Heidr menggambarkan apa yang disebutnya “naïve theory of action” , yaitu kerangka kerja konseptual yang digunakan orang untuk menafsirkan, mrnjrlaskandan meramalkan tingkah laku seseorang. Dalam kerangka kerja ini , konsept intensional (seperti keyakinan, hasrat, niat, keinginan untuk mencoba dan tujuan) memainkan peran penting.
Menurut Heider ada dua sumber atribusi terhadap tingkah laku : (1). Atribusi internal atau atribusi disposisional (2): atribusi ekternal atau atribusi mlingkungan. Pada tribusi internal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh sifat-sifat atau disposisi (unsure psikologis yang mendahului tingkah laku). Pada atribusi ekternal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh situasi tempat atau lingkungan orang itu berada.

Dua teori yang paling menojol dari segi konsep dan penelitian akan dibicarakan dalam sub-suba bab berikut ini, yaitu teori inferensi terlait (correspondence inference) dari Jones dan Davis (19650 dan teori ko-variasi Kelley (kelly’s covarioance Theory) yang dirumuskan oleh Harlod Kelly (1972).

Teori Inferensi Terkait (correspondence inference thepry)
Analisa tentang bagaimana orang menyimpulkan disposisi dari tingkah laku dilakukan oleh Jones and Davis (1965). Mereka melihat putusan-putusan dari intensi sebagai syarat dari putusan-putusan tentang disposisi. Akan tetapi studi lebih diarahkan kepada factor disposisional pada kajian selanjutnya.
Teori ini dikembangkan oleh Jones and Davies bermula dari asumsi bahwa seseorang mengobservasi perilaku orang lain dankemudian menarik kesimpulan tentang disposisi 9ciri-ciri sifat) kepribadian orang yang diamati tersebut.. Dengan kata lainteori inferensi terkait ini menjelaskan tentang bagaimana kita menarik kesimpulan temntang orang lain melalu observasi atau pengamatan terhadap orang lain tersebut. Sifat kepribadian tersebut (disposisi) inipun diasumsikankehadiran/keberadaannya stabil pada diri orang itu dan berlaku dari satu situasi ke situasi lainnya

Ada beberapa factor yang dapat dijadikan dasar untuk menarik suatu kesimpulan tentang apakah suatu perbuatan disebabkan oleh sifat kepribadian ataukah disebabkan oleh tekanan situasi.. bila factor-faktor berikut ini hadir( ada) disaat seseorang melakukan perbuatan atau tindakan, maka dapat dipastikan perbuatan/tindakan tersebut disebabkan karena factor sifat-sifat kepribadian (disposisi) orang tersebut. Apa sajakah ketiga factor tersebut ?

1. Non Common Effect (tindakan yang tidak umum/ora sak umume uwong)
2. freely chosen act ( tindakan atas pilihan sendiri)
3. Low social desirability (tindakan yang menyimpang kebiasaan)
Penjelasan

1. Non common effect
Apa yang dimaksud dengan non-common effect (hal-hal yang memberi dampak yang kurang umum), yaitu situasi dimana penyebab dari tindakan yang dilakukan oleh seseorang adalah sesuatu yang tidak disukai oleh kebanyakan orang pada umumnya. Sebagai contoh misalnya , jika anda seorang pria memutuskan untuk menikahi seorang gadis yang cantik berusia masih muda dan berbudi pekerti luhur, maka dlam hal ini tidak ada hal-hal umum yang anda langgar. Artinya anda melakukan suatu hal yang lazim dan disukai umum. Sangat sulit bagi kita untuk mengatakan pilihan anda menikahi gadis tersebut karena sifat keribadian pria tersebut. Pria pada umumnya akan mau dan dengan senang hati menikahi gadis yang memiliki cirri-ciri demikian. Tetapi kalau seandainya seorang pria menikahi wanita pintet, kaya, tua dan buruk rupanya (tidak cantik), orang akan segera saja menyimpulkan bahwa pria itu memiliki sifat-sifat kepribadian yang materialistic (menyukai kekayaan si wanita). Kenapa demikian ? Karena biasanya pria tidak menyukai wanita tua yang rupanya jelak untuk dijadikan istri. Sifat-sifat yang tidak umum ini (tua dan jelek) inilah yang disebut non-common effect

2. Freely Chosen act
Dalam kehidupan keseharian kita, kadang kita menyaksikan banyak orang yang berbuat atau bertindak tidak atas keputusannya sendiri, tidak sedikit orang yang bertindak atau berbuat karena desakan atau paksaan situasi. Sebagai contoh misalnya dalam kisah cinta siti nurbaya seorang wanita muda harus menikah dengan Datuk maringgih, seorang duda tua yang kaya raya. Nurbaya menikah karena dipaksa oleh orang tuanya demi melunasi hutang-hutangnya. Dalam kasus ini sangat sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa Nurbaya adalah perempuan yang materialistic yang hanya mengejar harta benda sang datuk. Tetapi mjika Nurbayasendiri yang iningin menikah dengan duda tersebut sedangkan orang tuanya tidak menyarankan atau bahkan mungkin melarangnya, maka dengan mudah kita menarik kesimpulan bahwa wanita itu materilistik. Tindakan untuk menikah dengan datuk maringgih adalah tindakan yang dilakukan atas pilihan sendiri, bukan karena tekanan situasi..
3. Low Social desirability (tindakan atau perbuatan yang menyimpang kebiasaan)
Suatu ketika kita melihat seseorang berperilaku aneh, tidak wajar dan tidak sebagaimana mestinya. Dengan kata lain tindakan atau perbuatannya itu menyimpang dari kebiasaan umum. Misalnya ketika seseorang menghadiri upacara kematian (layat/takziyah-jw) semestinya orang tersebut harus menujukkan wajah sedih dan berempati atas kematian anggota keluarga si tuan rumah. Jika seseorang menujukkan ekpresi demikian akan sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa seseorang tadi kepribadiannya penuh empati dan simpati. Mengapa demikian ? karena dalam situasi layatan setiap orang dituntut untuk berbuat demikian. Tetapi kalau seseorang dalam layatan tersebut lalau menujukkan kegembiraan dengan tertawa-tawa, bahkan terbahak-bahak di saat orang lain susah maka dalam situasi ini akan mudah bagi kita untuk menarik kesimpulan bahwa kepribadian orang tersebut tidak beres. Kita akan dengan mudah menarik kesimpulan bahwa seseorang memiliki sifat keribadian tertentu bila dia berbuat menyimpang dari kebiasaan umum.

Teori ko-variasi Kelley (kelley’s covariation theory)
Harlod Kelley dalam teoriny menjelaskan tentang bagaimana orang menarik kesimpulan tentang “apa yang menjadi sebab” apa yang menjadi dasar seseorang melakukan suatu perbuatan atau memutuskan untuk berbuat dengan cara-cara tertentu. Menurut Kelley ada tiga factor yang menjadi dasar pertimbangan orang untuk menarik kesimpulan apakah suatu perbuatan atau tindakan itu disebabkan oleh sifat dari dalam diri (disposisi) ataukah disebabkan oleh factor di luar diri. Ketiga factor dasar pertimbangan tersebut adalah :

1. Concensus
Konsensus adalah situasi yang membedakan perilaku seseorang dengan perilaku orang lainnya dalam menghadapi situasi yang sama. Bila seseorang berperilaku sama dengan kebanyakan orang lain, maka perilaku orang tersebut memiliki konsesnsus yang tinggi. Tetapi bila perilaku seseorang tersebut berbeda dengan perilaku kebanyakan orang maka berarti perilaku tersebut memiliki consensus yang rendah. Misalkan saja “pak amin adalah penyuka laweakan yang dimainkan oleh group lawakan Srimulat. Setiap menonton pertunjukan srimulat pak amin selalu tertawa terpingkal-pingkel dan orang-orang lain pun juga tertawa juga.. Dalam contoh ini dpat kita katakana bahwa perilaku pak amin dalam hal tertawa menonton lawakan srimulat berkonsensus tinggi (high concensus). Tetapi bila bila hanya pak amin saja yang tertawa sedangkan orang lain cuma mesam mesem saja alias tidak tertawa, maka perilaku pak amin tersebut memiliki consensus yang rendah.

2. Consistency
Konsistensi adalah suatu kondisi yang menujukkan sejauh mana perilaku seseorang konsisten (ajeg) dari satu situasike situasi yang lain. Dalam contoh di atas, jika pak amin selalu tertawa menonton srimulat pada hari ini atau hari yang lain atau kapanpun pak Amin menonton srimulat selalu tertawa, maka perilaku pak Amin tersebut memiliki konsistensi yang tinggi (high consistency). Semakin konsisten perilaku seseorang dari hari ke hari maka semakin tinggi konsistensi perilaku orang tersebut.

3. Distinctivenss (Keunikan)
Keunikan menujukkan sejauhmana seseorang bereaksi dengan cara yang sama terhadap stimulus atau peristiwa yang berbeda. Dalam contoh di atas, kalau pak Amin tertawa menonton lawakan srimulat, juga tertawa menonton lawakan lainnya (lawakan tukul arwana, ektra vaganza dll) maka dapat dikatakan perilaku pak amin memiliki keunikan yang rendah (low distinctiveness) tetapi kalau pak amin hanya tertawa ketika menonton lawakan srimulat sedangkan terhadapan lawakan lainnya pak amin tidak tertawa, maka perilaku pak amin memiliki keunikan tinggi (high distictiveness). Mengapa demikian ? karena pak amin konsisten hanya tertawa pada srimulat kepada lawakanlainnya meski juga lucune puoool, pak amin tidak tertawa, Cuma mesam mesem…uniq khan .

Kovariasi antar ke tiga factor di atas akan menentukan apakah perilaku seseorang akan diatribusikan sebagai atribusi internal (disebabkan oleh factor dari dalam diri, yakni sifat/dispoisi kepribadian) ataukah disebabkan factor di luar diri atau factor situasi.
Perilaku akan diatribusikan sebagai atribusi internal bila perilaku tersebut memiliki consensus yang rendah, konsistensi tinggi dan keunikan yang rendah. Coba anda perhatikan situasi berikut ini : saya tertawa menonton lawakan srimulat, orang lain tidak tertawa menonton srimulat (konsesnsus rendah). Saya selalu tertawa kapan saja saya menonton srimulat (kosistensi tinggi), dan saya selalu tertawa menonton pertunjukan lawak, tidak hanya srimulat tetapi juga kelompok dagelan lainnya (keunikan rendah). Menurut anda apa sebab saya tertawa. Apakah hal itu lebih disebabkan oleh karena sifat diri saya yang suka dengan lawak, atau karena srimulat yang membuat saya tertawa karena kecanggihan kemapuan srimulat dalam membuat saya tertawa. Tentu saja anda mengatakan karena saya seorang yang suka lawakan, bukan karena kecanggihan kemampuan srimulat dalam membuat saya tertawa. Saya akan tertawa menonton lawakan apa saja, tidak hanya srimulat. Jadi kesimpulannya pada situasi demikian orang akan mengatribusikan penyebab perilaku pada diri saya (atribusi internal)
Dalam situasi bagaimanakah orang akan mengatribusikan penyebab perilaku ke situasi di luar diri (atribusi ekternal). Yaitu bila perilaku ditandai dengan konsesus yang tinggi, konsistensi yang tinggi dan keunikan yang tinggi. Coba kita lihat situasi berikut ini. Saya tertawa menonton srimulat dan orang lain juga tertawa (konsesnsus tinggi), saya selalu tertawa menonton srimulat kapan saja (konsistensi tinggi), saya hanya tertawa menonton srimulat, sedangkan pada lawakanyang lain saya Cuma mesam mesem saja alias tidak tertawa ( keunikan tinggi).
Pada ilustrasi tadi, kira-kira apakah penyebab saya tertawa, apakah karena saya tipe orang yang suka tertawa, ataukah karena memang srimulatnya yang lucu. Dalam situasi demikian ini orang atau anda cenderung untuk mengatakan srimulatlah yang membuat saya tertawa, karena saya tidak tertawa menonton lawakan yang lainnya (atribusi ekternal).


Sumbangan tulisan dari:Yadi Purwanto  (Dosen Fak. Psikologi Univ. Muhammadiyah Surakarta (UMS).
http://ahmadyasserm.multiply.com/journal/item/27?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
PELUANG PSIKOLOGI ISLAMI
Pembicaraan (lebih tepat silang pendapat) seputar psikologi islami di Indonesia, bisa dikatakan masih sebatas lontaran-lontaran pemikiran. Urun gagasan ini terasa belum menggigit sampai tataran ilmiah yang diharapkan, namun demikian beberapa pendahuluan karya-karya yang masih deskriptif ataupun try and error mulai bermunculan. Beberapa karya boleh disebutkan disini seperti : Dilema Psikologi Muslim, Al Qur’an dan Ilmu Jiwa, Nafsiologi, Integrasi Psikologi dengan Islam, Psikologi Qur’ani. Paradigma Psikologi Islami dan beberapa karya tulisyang tersebar dalam berbagai jurnal dan media.

Meskipun karya-karya tersebut mulai saling terkomunikasikan, namun saya melihat masih terdapat “kemandegan” dibandingkan islamisasi ilmu pengetahuan pada bidang-bidang lainnya. Secara garis besar dapat saya rangkum persoalan yang masih menyelimuti “kemandegan” pengembangan psikologi Islami, yaitu :

a. Berkaitan dengan Istilah yang dipakai untuk mewakili secara “pas” tentang idea-idea. (dalam makalah ini saya menggunakan istilah “Psikologi Islami” )
b. Proses pemwujudan “bangunan” psikologi yang dikehendaki. Disini dapat saya pisahkan menjadi: Westernisasi Islam Vs Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan di satu pihak lain meragukan keduanya karena Ilmu adalah Islami.
c. Keinginan sebagian pihak menghendaki dibangunnya suatu “Grand theory” yang murni dibangun dari “Istilah-aksioma-dalil” dari dua sumber utama Al Qur’an dan Hadits serta hasil pemikiran tokoh Islam (khususnya sufi dan thoriqot) dan bukan menjadi “tukang” yang mengintegrasikan berbagai teori-teori Psikologi Barat (Asing) dengan “mengaduk-aduk” dengan semen ayat-ayat atau hadits-hadits.
d. Kurangnya dialog intensif dan “high level” dalam tataran ilmiah, serta dukungan berbagai pihak yang masih berjalan sendiri-sendiri. Ketiadaan lembaga penterjemah buku-buku berbahasa asing (Inggris dan Arab) yang dapat mempercepat keterlibatan mahasiswa dan alumnus psikologi ke dalam kancah perdebatan. Keterlambatan dan kelambanan informasi ini menyebabkan sebagian dari kita-peminat psikologi islami hanya mengandalkan pada saduran-saduran naskah yang tercecer di berbagai buku.

Sehubungan dengan wacana tentang psikologi islami dalam menghadapi abad 21, maka tentu saja tidak bisa terlepas dari berbagai perdebatan, bahkan saya melihat bahwa pembahasan kita saat ini, aplikasi psikologi islami terlampau “lompat pagar” (atau terlalu cepat) diperbincangkan dari persoalan utama : teori-teori dasar psikologi, yang selama ini menjadi “dinamo”-nya Psikologi : Behavioristik, Ketidaksadaran (Psikoanalisis), Humanistik. Hingga kini belum dapat dikatakan selesai “bangunan teori” yang khas islami.
Sebagai sebuah gagasan yang dapat memicu untuk melahirkan runtutan tanggapan, maka memperluas muatan diskursus psikologi islami ini tentu dapat terus dilanjutkan. Setidaknya, lontaran ini menjadi tambahan pertimbangan atas aksiologis-pragmatis tentang perlunya psikologi islami dalam menghadapi tantangan perubahan masa depan.

Tantangan dan Peluang Psikologi Islami
Sejak tahun 1980-an telah bermunculan berbagai prediksi abad 21. Beberapa tokoh futurolog seperti John Naisbit telah meramalkan berbagai perubahan dunia dan perilakunya. Pada saat yang bersamaan telah lahir orde baru di dunia filsafat : Post modernisme. Kita juga terhenyak dengan berbagai pembentukan organisasi regional dan global, seperti isue globalisasi semakin mengental dengan pencapaian teknologi informasi.
Tidak ketinggalan kehadiran AFTA, NAFTA, WTO dengan isue pasar bebas dan pasar global. Dalam ketidaksiapan menghadapi pertarungan yang belum seimbang antara dunia Islam dengan Barat, diakhir penghujung 1996 juga telah lahir sebuah buku brilian dari seorang politikus dan juga Profesor di Harvard University, Amerika, Samuel P. Huntington dengan bukunya “The Crash of Civilization”. Huntington secara simplitis meramalkan bahwa peta peradaban dunia (seluruh aspek kehidupan) akan berubah menjadi tiga sekte besar : Islam, Kristen dan Konfusianisme. Islam mewakili masyarakat dan pikiran kaum muslimin (yang sebagian di negara ketiga dan dunia belahan Timur) dan Kristen mewakili (budaya dan masyarakat) dunia Barat dan Europa, serta Konfusianisme mewakili China, Jepang dan sejenis ajarannya.
Hipotesis Huntington ini cukup mendapat reaksi keras dari berbagai tokoh dunia, bahkan menuduhnya sebagai agen Yahudi yang mencoba menarik peta dunia agar terpecah menjadi tiga, bahkan sangat mungkin menjadi dua kekuatan besar, yaitu Islam versus Kristen, karena yang ketiga (Konfusian) turut berpihak dan bersepakat pada Islam. Nampaknya secara sederhana, hipotesis Huntington ini menggugat semangat universalisme dan persatuan dunia. Bahkan dianggap sebagai pemicu perselisihan di beberapa negara yang heterogenitas agamanya terkadang menghangat menjadi pertentangan dan peperangan.

Sementara itu Fuyama (1996) seorang pejabat kementrian luar negeri Amerika Serikat yang berkebangsaan Jepang, malah mengomentari tentang abad mendatang sebagai abad Kapitalisme dan Liberalisme, kedua isme tersebut dipandangnya sebagai puncak keunggulan manusia dalam peradaban. Hipotesisnya ini didasarkan pada keyakinan bahwa arah dari seluruh usaha manusia adalah kebebasan dan demokrasi.
Terlepas dari akan terbukti atau tidak hipotesis Huntington tersebut, kita sebagai Psikolog muslim patut urun-renungan, bagaimana jika hal ini benar terjadi ? Sebab pertarungan pasca perang dingin tidak lagi didominasi Demokrasi (Kapitalistik) dan Komunisme, atau Nato-Europa dan Pakta Warsawa (Uni Sovyet-al maut). Setelah runtuhnya Komunisme maka musuh terbesar Barat diramalkan adalah Islam.

Huntington mempertaruhkan satu pandangan bahwa dalam kondisi peradaban dunia di masa depan ini, sikap moderat adalah sikap yang terbaik. Ia mengasumsikan bahwa sikap fanatisme adalah ketinggalan jaman dan kurang dapat dipertahankan, namun sikap moderatlah yang paling bisa tumbuh subur dan harus disuburkan. Pada suatu seminar budaya di UMS, tercetus ungkapan bahwa “ kebenaran agama di masa mendatang tidaklah menjadi hak monopoli Islam” artinya Surga yang luasnya seluas langit dan bumi mungkin sekali menyediakan kapling untuk setiap penganut keyakinan/agama. Kebenaran adalah apa yang diyakini tetapi bukanlah kebenaran satu-satunya yang final final.
John, L. Espasito (The Islamic Threat, Miyth or Reality, 1992), justru menanggapi perubahan di masa mendatang. Ia menyatakan bahwa yang akan berhasil dalam mengarungi jaman adalah mereka yang modern sekaligus juga memiliki keyakinan terhadap prinsip-prinsip. Kemampuan di bidang penguasaan ilmu dan teknologi harus juga disikapi dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang diyakini.

Sebagai suatu ancang-ancang menghadapi dunia perubahan yang belum jelas arahnya, maka tidak salah jika kita juga mencermatinya, kita siap sebagai bangsa yang dapat berkompetisi global tanpa harus kehilangan prinsip-prinsip kita yang diyakini pasti benar, sebagai wujud iman kita pada Islam.

Secara tegas sesungguhnya Allah telah menetapkan adanya pertentangan antar ideologi dan msayarakat besar : Mu’minin Vs Kafirin, Musyrikin, Munafiqin. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa abad XV hijriyah adalah abad kebangkitan Islam yang ditandai oleh suatu gelombang besar dalam hal penguasaan sains dan teknologi yang diislamisasi. Jika kita mengaca kepada Psikologi maka bisa jadi akan terjadi saling tarik menarik dan saling pengaruh mempengaruhi untuk muncul mendominasi dunia ilmu pengetahuan di bidang psikologi : Psikologi Islami Vs Psikologi Barat (Non-Islami) dan di satu pihak Psikologi Timur (Taoisme-China). Bisakah semangat persaingan ini juga memicu kebangkitan Islam di bidang ilmu psikologi ?

Benarkah psikologi berseberangan dengan agama (Islam) ?
Untuk menjawab pertanyaan ini sesungguhnya tidak mudah, kesulitannya bersumber pada tolok ukur apa yang akan dipakai ?
a. Apakah psikologi ditinjau secara keseluruhan, tanpa memilah-milah ?
b. Apakah psikologi dipandang sebagai proses yang terus berlanjut ?
c. Apakah Psikologi dipandang sebagai hasil akhir ?
Menjawab pertanyaan point a :
Psikologi itu ibarat hutan yang begitu bersimpangan berbagai pendapat, mulai dari persoalan filsafati, paradigma, teori, metoda. Mulai dari diagnosa, analisa hingga terapi. Ribuan alat tes terus lahir ada yang direvisi, ada yang paforit digunakan, tidak terpakai, kurang peminat, rumit dan simple. Tentunya dengan melihat begitu banyaknya kajian yang berserakan di hutan Psikologi, alngkah tidak simpatiknya menggelari Psikologi sebagai ilmu tidak Islami. Psikologi adalah hutan ilmu yang terbuka untuk diambil dan dimasuki. Sehingga jika kita mau bahkan bisa menciptakan hutan Psikologi sendiri yang tidak ada hubungannya dengan hutan sebelumnya!

Upaya telaah yang dilakukan tentu harus memilah-milah ! dan untuk memilah-milah betapa beratnya.
Waktu dan tenaga serta konsekuensinya hanya sebagai pengkritik dan tidak sempat membangun.
Sebagian besar dari psikologi Barat, memang memisahkan Tuhan dari pengalaman subyektif manusia. Pengalaman subyektif-religius ini masih dipandang sebagai bukan ilmiah. Kalau mau diilmiahkan harus memenuhi standar ilmiah : Logis-rasional-empiris.
Barangkali standar ilmiah itulah yang harus diperbaharui. Standar ilmiah yang sekarang ini digunakan karena “diyakini”. Jadi masalah menerima atau tidak standar ilmiah tersebut sangat ditentukan seberapa besar seseorang menerimanya dengan yakin.

Menjawab pertanyaan b :
Sebuah penemuan di dunia ini jarang yang bersifat akhir, karena dia bukanlah Wahyu yang sudah final dan essensial. Berbagai penemuan ilmiah sekalipun tidaklah pernah berakhir, bahkan bisa dikatakan selalu memulai. Prinsip *****ulative, dan corrective dari ilmu menyebabkan ia selalu terbuka dan bersedia diri berubah. Ilmu selalu berkelanjutan. Konsistensi pemikiran sebelumnya yang sudah diakui dapat dipergunakan, tetapi juga bisa jadi dibantah dan diperbaiki sama sekali apabila ada dasar yang lebih bisa diterima oleh masyarakat ilmiah.

Nabi Ibrahim AS, adalah sosok contoh seorang yang berproses untuk menemukan kebenaran (haqul Yaqin). Pada tahap permulaan Ibrahim menemukan kebenaran berdasarkan indrawi mata. Ia baru menyadari akan kelemahan objek yang dijadikan Tuhan setelah menemukan fakta baru yang tidak logis, ia kemudian menemukan kembali melalui proses pencarian, Ia berganti matahari yang lebih ajek dalam memberikan cahayanya, tetapi juga gagal hanya karena pada malam hari seolah lenyap dari pandangan.
Ia menggunakan rasio-nalar “bagaimana mungkin Tuhan ada dan hilang ?” Akhirnya ia menemukan kebenaran itu melalui mata hatinya (intuisi-metaempiris). Akankah kita mengatakan bahwa Ibrahim adalah seorang yang kufur lalu jadi muslim ?
Peristiwa Ibrahim ini memberikan gambaran bahwa kita tidak perlu terlalu cemas atas “ketiadaan Tuhan” dalam beberapa teori psikologi, selama manusia masih terus memerlukannya. Sebab Kebenaran pasti Menang. Tinggal bagaimana Ia datang dan mengalahkan kebathilan ! Psikologi yang berpihak kepada kebenaran Islam pasti akan datang, hanya proses itulah yang sedang kita jalani.

Melihat psikologi sebagai proses, maka tidaklah salah jika kita menggunakannya selama memperoleh manfaat. Artinya psikologi digunakan untuk sementara dalam membantu memecahkan persoalan kemanusiaan. Dari psikologi barat inilah barangkali lahir psikologi Islam. Kata dan istilah “Psikologi” sendiri tidak pernah ada dalam sejarah Islam salaf. Psikologi baru dipermasalahkan setelah kita mengenal beberapa kelemahannya dilihat dari prinsip Islam. Bahkan secara ekstrim menyebut “Psikologi jahiliyah modern”.
Saya ingat perkataan Umar Ra. “Orang yang tidak mengenal jahiliah maka ia tidak akan mengenal Islam. Artinya kehadiran psikologi Barat telah cukup bagi psikolog muslim untuk juga mengenal psikologi Islami. Sebagai pembanding yang akan ditilik keunggulan dan kelemahannya, harus kita akui psikologi barat telah memberi andil yang besar bagi kelahiran psikologi Islami.

Menjawab pertanyaan c:
Kalau ada yang yakin bahwa mobil Timor S 515 adalah produk terakhir dari teknologi KIA Motor, jelas salah besar. Demikian juga yang mengatakan bahwa proses penciptaan langit ini berhenti dan sudah ajeg juga salah. Allah mengatakan senantiasa membinanya ). Seseorang yang dalam pencapaian pengetahuannya final hanyalah orang yang mati ! hakekat pengetahuan memang tidaklah berhenti. Demikian juga dengan psikologi, psikolog yang yakin bahwa hasil-hasilnya yang sekarang ini merupakan hasil akhir yang tidak berkembang dan kebenaran ilmunya dipandang berakhir, bolehlah ia digelari psikolog yang almarhum. Psikologi Islami sendiri sedang mencari bentuk, tentu saja kita harus hormat terhadap banguan psikologi yang ada.

Kebenaran Wahyu itulah yang ajeg karena ia prinsip hidup yang tidak bisa berubah. Penafsirannya yang belum tentu ajeg. saya yakin bahwa psikologi islami pun tidak ajeg karena ia adalah sebuah penafsiran terhadap manusia dan terhadap ayat-ayat Allah. Kebenaran suatu penafsiran itulah yang harus diakui sebagai relatif. Penafsiran yang manakah yang harus diakui? Allah menyatakan dalam Al Qur’an : Sesungguhnya, kewajiban Kamilah mengumpulkan (alQur’an) di hatimu (Muhammad) dan membuatmu pandai membaca )......Kamilah yang memberikan penjelasannya ). Jadi hanya Muhammad sajalah yang memahami betul isi kandungan Al Qur’an dan penafsirannya dan itu kita hanya mengetahui dari Hadits dan Sunnah serta para pewaris risalah Islam (para ulama). Jelas, bukan penafsiran tanpa konsistensi dengan penafsiran sebelumnya.

NISBAH : Psikologi dan Islam
Setiap ide baru akan selalu mengundang reaksi pro dan kontra. Tak terlepas dengan ide islamisasi psikologi dan musliminisasi psikolog. Apalagi ide tersebut menggugat sesuatu yang berkaitan dengan profesi (sebagai lahan hidup) serta nilai-nilai pribadi. Kecurigaan terhadap psikologi Barat yang telah mencabut manusia sebagai makhluk Tuhan dan kadang (psikoanalisa) menuduh aktivitas keagamaan adalah perbuatan kompensasi yang tidak ada dasar ketulusan mendasar sebagai seorang manusia, telah melahirkan sebutan-sebuatan yang agak sarkasme : “Psikologi ilmu sesat dan menyesatkan” atau “Psikologi ilmu skuler” sampai sebutan yang agak halus “ Psikologi ilmu perilaku yang tidak perlu dihubung-hubungkan dengan agama, agama ya agama, psikologi ya psikologi”. Lontaran pemikiran Malik B. Badri cukup membuat kepanasan kuping para psikolog yang sudah “terlalu yakin atas kebenaran dan kehandalan alat tes dan analisis psikologi”. Siapa yang mau dituduh tidak islami ?

Siapa yang rela disebut psikolog anti agama ?
Dua pertanyaan itu tentu diajukan kepada psikolog muslim ! sedangkan bagi mereka yang tidak muslim tentu tidak merasa peduli dengan psikologi islami atau bukan. Mungkin mereka mengkhatirkan adanya psikologi Kristiani, psikologi Hindi, Psikologi Kejawen, Psikologi Yahudi!
Jadi masalahnya adalah seputar keyakinan psikolog muslim yang belum sepenuhnya puas dengan psikologi bila diukur berdasarkan norma-norma ajaran Islam !
Lantas dimana ke-universalannya bila psikologi dilabeli Islami?

Sebelum menjawabnya, saya balik bertanya “Apakah setiap teori psikologi seutuhnya universal?” Kenyataannya tidaklah ada teori yang bisa sepenuhnya dapat diterapkan untuk semua manusia. Teori Freud tidak dapat sepenuhnya universal sebab ia tidak bisa diterapkan pada orang yang muslim atau diterapkan pada orang yang tidak meyakini kehandalan psikoanalisisnya. Teori Maslow juga tidaklah universal karena dia tidak dapat menjelaskan motivasi lillahi ta’alanya seorang muslim, atau berbuat karena Yesus, Motivasi Maslow belum menyentuh aspek ruhaniah. Adalah wajar, jika banyak tokoh yang merasa tidak puas lalu memunculkan teori baru yang dipandang bisa universal, bahkan bukan saja universal melainkan juga “totalitas”, artinya bisa mencakup seluruh aspek manusia dan tidak memilah manusia dengan kategori (domain) yang masih tidak menggambarkan manusia seutuhnya. Akhirnya, keuniversalan dan kemangkusan psikologi lebih disebabkan karena diyakini dan diterima oleh masyarakat ilmiah pada jamannya. Ketika ditemukan kekurang-mangkusan untuk menjelaskan manusia maka kepercayaan terhadap teori tersebut berkurang dan sebagai rasa hormat kepada penemunya dijadikan sebagai literatur atau referensi perkembangan ilmiah. Saya melihat bahwa bukanlah keburukan bila orang melahirkan karya, berupa teori tentang psikologi, sekalipun terbukti salah atau kurang sempurna, itulah hakekat manusia : ia selalu tidak mampu menggambarkan dirinya secara sempurna !

Dalam buku “ Man, The Unkonw” digambarkan betapa manusia sudah frustrasi mengetahui siapa dirinya. Padahal manusia sudah bermilyar banyaknya. Setiap orang pernah bertanya siapa dirinya. Ia pernah mengeluarkan pendapatnya sendiri, bahkan ada yang pendapatnya diyakininya hingga menemui kematian. Barangkali sesudah kematian itulah manusia tahu yang sesungguhnya siapa sebenarnya dirinya !
Emha Ainun Najib dalam satu essainya pernah menulis “ Berpuluh-puluh tahun manusia telah gagal mengenali siapa dirinya”. Sebaliknya saya menduga manusia akan selalu gagal mengenali dirinya.

Manusia memiliki “Ruh” yang menjadi misteri sepanjang kemanusiaan. Ruh ini adalah rahasia tak terjawab. Penggambaran tentang ruh selalu berubah. Barangkali Ruh itu sesungguhnya akan dikenali dengan seutuhnya manakala kita mencapai kematian.
Allah berfirman : “ Mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Maka Jawablah Ruh itu urusanKu, Tidaklah pengetahuanmu tentangnya melainakn sedikit” ). Dari yang sedikit itupun tentu bukan dicari sendiri karena Allah sendiri yang mengajarkan tentang ruh. Dalam peristiwa keraguan Nabi Ibrahim As tentang adanya Allah. Allah mengajarkannya melalui peniupan roh ke dalam cincangan daging burung. Pelajaran peniupan Roh ini ternyata memperkuat iman yang sudah ada pada diri Ibrahim. Tidaklah salah jika psikologi Islami memasukkan unsur Ruh dalam kajiannya dengan maksud menemukan hakekat keberadaannya.

Islam memberikan keleluasaan kepada manusia untuk mempertanyakan siapa dirinya. Bahkan Allah sangat menghargai pertanyaan siapa manusia itu dan kenapa manusia itu diciptakan. Malaikat yang bernada protespun tidaklah dipandang hina, asal tidak bermaksud mengkufuri. Keraguan (meragukan) untuk semakin beriman adalah sah-sah saja. Rasulullah sendiri pernah mengalami keraguan tentang apa yang telah diturunkan kepadanya, kemudian ia diharuskan bertanya kepada Orang yang telah mengetahui Kebenaran (Waroqoh bin Naufal), sehingga barulah Allah menyruhnya agar jangan menjadi orang yang ragu. Proses dari keraguan menjadi iman adalah diijinkan dan dibenarkan. Dan itu proses pencarian pengetahuan kebenaran. Jadi wajar pula bila seseorang yang mempelajari psikologi Barat kemudia meragukannya, untuk kemudia menjadi yakin setelah mengalami proses “bertanya” tentang kebenaran. Islam merupakan sumber Kebenaran, luas sekali membuka gerbang pengetahuan. Al Qur’an menantang kepada manusia untuk bisa menjelajahi langit dan dalamnya bumi. “Hai jin dan manusia, jika kamu mampu menembus langit dan bumi, lakukanlah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan” . Kekuatan yang digambarkan tersebut tentu bukan saja kekuatan teknologi dan peralatan tetapi juga kekuatan manusianya. Untuk mengenal kekuatannya manusia juga perlu mengenal kelemahannya ketika berhadapan dengan alam raya yang akan dijelajahinya. “Dan akan kami perlihatkan ayat-ayat Kami dilangit dan di bumi serta pada dirimu sendiri.”

Banyak nian Al Qur’an mengungkap persoalan kemanusian dan diri manusia. Dan diyakini statement Al Qur’an dan Sunnah sebagai kebenaran. Dari sesuatu yang benar, kita dapat melahirkan proses yang benar, hasil yang benar serta manfaat yang benar pula. Dari cara pandang tentang Tuhan-alam-manusia yang benar, melahirkan pendekatan ilmiah yang benar, menurunkan bangunan teori yang benar, metode yang benar dan manfaat aplikasi yang benar. Sehingga ujungnya skesejahteraan manusia yang sesungguhnya lah yang menjadi tujuan akhir dari psikologi islami. Selamat dunia dan akhirat. “Dan dengan Kebenaran Kami menurunkan Al Qur’an dan dengan proses yang benar Kami turunkan Al Qur’an, Tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai Pemnberi kabar gembira (reward kebaikan) dan pemberi peringatan (ancaman keburukan).

Laporan Studi Lapangan
Observasi  dan Interview


Tema  OBI :                   Penyerobotan Hak Sipil Oleh Pedagang Kaki Lima di wilayah taman kota komplek monumen perjuanagn 45 Banjarsari kota Solo.
Obyek OBI :                 Pedagang kaki Lima di komplek pasar klitikan Banjarsari Solo.
Subyek/Sasaran OBI:  
 1). Pelaku perdagangan kaki lima
  2). Pengunjung/pembeli
  3). Masyarakat /warga yang tinggal disekitar wilayah pasar klitikan banjarsari
 4). Petugas dinas pengelola pasar (DPP) kota Solo
5)      Siapa saja yang berkaitan atau berkepentingan dengan keberadaan pasar klitikan.

Lokasi :   Sebutkan secara mendetail lokasi atau wilayah dimana observasi dan interviu anda lakukan            (dalam contoh di atas lokasi OBI adalah : Komplek pasar klitikan di taman kota monumen perjuangan 45 Banjarsari Solo.
Peresonil Pelaksana : 
Soleh Amini Yahman (F1000500123) Ketua
  Ahmad Dwiyanto Mangkusubroto (F10005004)
 Yudhy Satria Nunggal Jiworogo (F1000050099)
  Pekik Merdeka juwita Persada (F10000500876)
  Susilo Bambang Hamuktikaryo (F1000098645)
          
Pendekatan dalam OBI : Wawancara terstruktur / tidak terstruktur
                           Observasi Berperan serta / tidak berperan serta.
I. Pendahuluan
1.      Uraikan hal-hal yang melarbelakangi mengapa anda melakukan observasi/interviue pada tema permasalahan tersebut.
2.      Jelaskan alasan filosofis maupun alasan praktisnya.
3.      Jelaskan juga seberapa besar kompetensi permasalahan tersebut  sehingga menjadi prioritas untuk diamati
4.      Paparkan realitas dan harapan atas tema permasalahan yang anda angkat tersebut, sehingga menjadi menarik untuk dikaji.
II. Diskripsi hasil Observasi dan wawancara
    
1.      Gambarkan secara umum ‘setting’ yang anda ungkap dalam obsevasi anda melalui penggambaran verbal.
2.      Buatlah kesimpulan verbal dari wawancara yang anda lakukan untuk melengkapi dan memperjelas diskripsi hasil observasi anda . Jadi anda tidak diminta membuat salinan atau transkrip wawancara. Simpulkan permasalahan apa yang anda tangkap dari wawancara anda, kemudian gabungkan dengan kesimpulan observasi sehingga menjadi rumusan masalah.
III. Rumusan Masalah
Dari kedua hal tersebut pada no II buatlah rumusan masalah. Masalah apa yang anda tangkap dari observasi dan wawancara  anda. Pada contoh ini rumusan masalahnya adalah.
1.      Keberadaan pedagang kaki lima di komplek taman monumen perjuangan 45 banjarsari menimbulkan kekumuhan dan kerusakan lingkungan.
2.      Pengalihfungsian taman monumen perjuangan 45 banjarsari dari taman kota menjadi pasar telah merubah struktur kehidupan sosial masyarakat sekitarnya.
3.      Keberadaan pasar klitikan banjarsari menimbulkan polusi sosial dan menyuburkan penyakit masyarakat, seperti pelacuran liar, premanisme, perjudian dsb.
4.      Masyarakat di sekitar taman monumen perjuangan 45 terganggu kenyamanan dan keamanan kehidupan sosial maupun keluarganya.
5.      Dll.
IV. Kajian Teori/Landasan Teori
Kutiplah teori-teori psikologi, sosiologi atau ilmu-ilmu sosial yang lainnya yang relevan dengan rumusan masalah/tema masalah yang anda tangkap. Teori-teori yang relevan tersebut akan sangat berguna bagi anda pada saat anda melakukan analisa terhadap permasalahan.
VI. Analisis Permasalahan
            Berdasarkan permasalahan dan kajian teori sebagaimana tersebut di muka, buatlah analisa permasalahannya. Misalnya mengapa maslah tersebut muncul, faktor-faktor apa yang menjadi penyebabnya. Situasi-situasi yang bagaimana yang mempercepat terjadinya masalah tersebut, dan lain-lain. Juga buatlah estimasi dan prediksi atas perkebangan masalah tersebut. Kira-kira prognosanya bagaimana.
VII. Kesimpulan dan Rekomendasi
            Berikanlah pemaknaan/terjemahkanlah seluruh hasil OBI dalam suatu kesimpulan yang jelas dan tegas tentang apa dan bagaimana permasalah sosial yang timbul. Misalnya anda menemukan gejala “A” dalam Obi ada maka “A” itu maknanya apa.
VII. Treatmen / dan rekomendasi.
            ( untuk praktik ini hal tersebut belum perlu anda kerjakan, sebab materi tentang intervensi dan treatmen masalah-masalah sosial belum diberikan, tunggu setelah anda menempuh mata kuliah paikologi sosial II)

17:24 | Author: Soleh Amini Yahman, M.si. PSi

Drs. Soleh Amini Yahman. MSi.

Hal hal yang kita bicarakan pada pembahasan terdahulu (baca : sub bab :Persepsi Sosial) adalah hal-hal yang terkait dengan bagaimana kita membentuk kesan atas kehadiran orang lain secara dangkal. Dalam kehidupan kita sehari hari kita tidak hanya berhungan dengan kesan skilas di saat kita berjumpa dengan orang. Kita ingin sekali memahami perilaku orang lain sevcara mendalam, kenapa orang berperilaku dengan cara atau hasil tertentu. Upaya untuk memahami penyebab ini sangat terkait dengan proses Atribusi.

Kajian tentang atribusi pada awalnya dilakukan oleh Fritz Haider (1925). Menurut Haider, setiap individu pada dasarnya adalah seorang ilmuwan semu (pseudo scientist). Yang berusaha untuk mengerti tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan-potongan informasi sampai mereka tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab-sebab orang lain bertingkah laku tertentu. Dengan kata lain seseorang itu selalu berusaha untuk mencari sebab kenapa seseorang berbuat dengan cara-caratertentu. Misalkan kita melihat ada seseorang melakukan pencurian. Sebagai manusia kita ingin mengetahui penyebab kenapa dia sampai berbuat demikian. Dua focus perhatian di dalam mencari penyebab suatu kejadian, yakni sesuatu didalam diri atau sesuatu di luar diri. Apakah orang tersebut mlakukan pencurian karena sifat dirinya yang memang suka mencuri, ataukah karena factor diluar dirinya, dia mencuri karenadipaksa situasi, misalnya karena dia harus punya uang untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit keras. Bila kita (individu) melihat/menyimpulkan bahwa seseorang itu melakukan suatu tindakan karena sifat-sifat kepribadiannya (suka mencuri) maka kita (individu) tersebut melakukan atribusi internal (internal attribution). Tetapi jika kita (individu) melihat atau menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh seseorang dikarenakan oleh tekanan situasi tertentu (misalnya mencuri untuk beli obat) maka kita melakukan atribusi ekternal (external attribution)
Proses atribusi telah menarikperhatian para pakar psikologi sosia dan telah menjadi objek penelitian yang cukup intensif dalam beberapa decade terakhir. Cikal bakal teori atribusi berkembang dari tulisan fritz Heider ( 1958) yang berjudul “Psychology of Interpersonal relations”Dalam tulisan tersebut Heidr menggambarkan apa yang disebutnya “naïve theory of action” , yaitu kerangka kerja konseptual yang digunakan orang untuk menafsirkan, mrnjrlaskandan meramalkan tingkah laku seseorang. Dalam kerangka kerja ini , konsept intensional (seperti keyakinan, hasrat, niat, keinginan untuk mencoba dan tujuan) memainkan peran penting.
Menurut Heider ada dua sumber atribusi terhadap tingkah laku : (1). Atribusi internal atau atribusi disposisional (2): atribusi ekternal atau atribusi mlingkungan. Pada tribusi internal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh sifat-sifat atau disposisi (unsure psikologis yang mendahului tingkah laku). Pada atribusi ekternal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh situasi tempat atau lingkungan orang itu berada.

Dua teori yang paling menojol dari segi konsep dan penelitian akan dibicarakan dalam sub-suba bab berikut ini, yaitu teori inferensi terlait (correspondence inference) dari Jones dan Davis (19650 dan teori ko-variasi Kelley (kelly’s covarioance Theory) yang dirumuskan oleh Harlod Kelly (1972).

Teori Inferensi Terkait (correspondence inference thepry)
Analisa tentang bagaimana orang menyimpulkan disposisi dari tingkah laku dilakukan oleh Jones and Davis (1965). Mereka melihat putusan-putusan dari intensi sebagai syarat dari putusan-putusan tentang disposisi. Akan tetapi studi lebih diarahkan kepada factor disposisional pada kajian selanjutnya.
Teori ini dikembangkan oleh Jones and Davies bermula dari asumsi bahwa seseorang mengobservasi perilaku orang lain dankemudian menarik kesimpulan tentang disposisi 9ciri-ciri sifat) kepribadian orang yang diamati tersebut.. Dengan kata lainteori inferensi terkait ini menjelaskan tentang bagaimana kita menarik kesimpulan temntang orang lain melalu observasi atau pengamatan terhadap orang lain tersebut. Sifat kepribadian tersebut (disposisi) inipun diasumsikankehadiran/keberadaannya stabil pada diri orang itu dan berlaku dari satu situasi ke situasi lainnya

Ada beberapa factor yang dapat dijadikan dasar untuk menarik suatu kesimpulan tentang apakah suatu perbuatan disebabkan oleh sifat kepribadian ataukah disebabkan oleh tekanan situasi.. bila factor-faktor berikut ini hadir( ada) disaat seseorang melakukan perbuatan atau tindakan, maka dapat dipastikan perbuatan/tindakan tersebut disebabkan karena factor sifat-sifat kepribadian (disposisi) orang tersebut. Apa sajakah ketiga factor tersebut ?

1. Non Common Effect (tindakan yang tidak umum/ora sak umume uwong)
2. freely chosen act ( tindakan atas pilihan sendiri)
3. Low social desirability (tindakan yang menyimpang kebiasaan)
Penjelasan

1. Non common effect
Apa yang dimaksud dengan non-common effect (hal-hal yang memberi dampak yang kurang umum), yaitu situasi dimana penyebab dari tindakan yang dilakukan oleh seseorang adalah sesuatu yang tidak disukai oleh kebanyakan orang pada umumnya. Sebagai contoh misalnya , jika anda seorang pria memutuskan untuk menikahi seorang gadis yang cantik berusia masih muda dan berbudi pekerti luhur, maka dlam hal ini tidak ada hal-hal umum yang anda langgar. Artinya anda melakukan suatu hal yang lazim dan disukai umum. Sangat sulit bagi kita untuk mengatakan pilihan anda menikahi gadis tersebut karena sifat keribadian pria tersebut. Pria pada umumnya akan mau dan dengan senang hati menikahi gadis yang memiliki cirri-ciri demikian. Tetapi kalau seandainya seorang pria menikahi wanita pintet, kaya, tua dan buruk rupanya (tidak cantik), orang akan segera saja menyimpulkan bahwa pria itu memiliki sifat-sifat kepribadian yang materialistic (menyukai kekayaan si wanita). Kenapa demikian ? Karena biasanya pria tidak menyukai wanita tua yang rupanya jelak untuk dijadikan istri. Sifat-sifat yang tidak umum ini (tua dan jelek) inilah yang disebut non-common effect

2. Freely Chosen act
Dalam kehidupan keseharian kita, kadang kita menyaksikan banyak orang yang berbuat atau bertindak tidak atas keputusannya sendiri, tidak sedikit orang yang bertindak atau berbuat karena desakan atau paksaan situasi. Sebagai contoh misalnya dalam kisah cinta siti nurbaya seorang wanita muda harus menikah dengan Datuk maringgih, seorang duda tua yang kaya raya. Nurbaya menikah karena dipaksa oleh orang tuanya demi melunasi hutang-hutangnya. Dalam kasus ini sangat sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa Nurbaya adalah perempuan yang materialistic yang hanya mengejar harta benda sang datuk. Tetapi mjika Nurbayasendiri yang iningin menikah dengan duda tersebut sedangkan orang tuanya tidak menyarankan atau bahkan mungkin melarangnya, maka dengan mudah kita menarik kesimpulan bahwa wanita itu materilistik. Tindakan untuk menikah dengan datuk maringgih adalah tindakan yang dilakukan atas pilihan sendiri, bukan karena tekanan situasi..
3. Low Social desirability (tindakan atau perbuatan yang menyimpang kebiasaan)
Suatu ketika kita melihat seseorang berperilaku aneh, tidak wajar dan tidak sebagaimana mestinya. Dengan kata lain tindakan atau perbuatannya itu menyimpang dari kebiasaan umum. Misalnya ketika seseorang menghadiri upacara kematian (layat/takziyah-jw) semestinya orang tersebut harus menujukkan wajah sedih dan berempati atas kematian anggota keluarga si tuan rumah. Jika seseorang menujukkan ekpresi demikian akan sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa seseorang tadi kepribadiannya penuh empati dan simpati. Mengapa demikian ? karena dalam situasi layatan setiap orang dituntut untuk berbuat demikian. Tetapi kalau seseorang dalam layatan tersebut lalau menujukkan kegembiraan dengan tertawa-tawa, bahkan terbahak-bahak di saat orang lain susah maka dalam situasi ini akan mudah bagi kita untuk menarik kesimpulan bahwa kepribadian orang tersebut tidak beres. Kita akan dengan mudah menarik kesimpulan bahwa seseorang memiliki sifat keribadian tertentu bila dia berbuat menyimpang dari kebiasaan umum.

Teori ko-variasi Kelley (kelley’s covariation theory)
Harlod Kelley dalam teoriny menjelaskan tentang bagaimana orang menarik kesimpulan tentang “apa yang menjadi sebab” apa yang menjadi dasar seseorang melakukan suatu perbuatan atau memutuskan untuk berbuat dengan cara-cara tertentu. Menurut Kelley ada tiga factor yang menjadi dasar pertimbangan orang untuk menarik kesimpulan apakah suatu perbuatan atau tindakan itu disebabkan oleh sifat dari dalam diri (disposisi) ataukah disebabkan oleh factor di luar diri. Ketiga factor dasar pertimbangan tersebut adalah :

1. Concensus
Konsensus adalah situasi yang membedakan perilaku seseorang dengan perilaku orang lainnya dalam menghadapi situasi yang sama. Bila seseorang berperilaku sama dengan kebanyakan orang lain, maka perilaku orang tersebut memiliki konsesnsus yang tinggi. Tetapi bila perilaku seseorang tersebut berbeda dengan perilaku kebanyakan orang maka berarti perilaku tersebut memiliki consensus yang rendah. Misalkan saja “pak amin adalah penyuka laweakan yang dimainkan oleh group lawakan Srimulat. Setiap menonton pertunjukan srimulat pak amin selalu tertawa terpingkal-pingkel dan orang-orang lain pun juga tertawa juga.. Dalam contoh ini dpat kita katakana bahwa perilaku pak amin dalam hal tertawa menonton lawakan srimulat berkonsensus tinggi (high concensus). Tetapi bila bila hanya pak amin saja yang tertawa sedangkan orang lain cuma mesam mesem saja alias tidak tertawa, maka perilaku pak amin tersebut memiliki consensus yang rendah.

2. Consistency
Konsistensi adalah suatu kondisi yang menujukkan sejauh mana perilaku seseorang konsisten (ajeg) dari satu situasike situasi yang lain. Dalam contoh di atas, jika pak amin selalu tertawa menonton srimulat pada hari ini atau hari yang lain atau kapanpun pak Amin menonton srimulat selalu tertawa, maka perilaku pak Amin tersebut memiliki konsistensi yang tinggi (high consistency). Semakin konsisten perilaku seseorang dari hari ke hari maka semakin tinggi konsistensi perilaku orang tersebut.

3. Distinctivenss (Keunikan)
Keunikan menujukkan sejauhmana seseorang bereaksi dengan cara yang sama terhadap stimulus atau peristiwa yang berbeda. Dalam contoh di atas, kalau pak Amin tertawa menonton lawakan srimulat, juga tertawa menonton lawakan lainnya (lawakan tukul arwana, ektra vaganza dll) maka dapat dikatakan perilaku pak amin memiliki keunikan yang rendah (low distinctiveness) tetapi kalau pak amin hanya tertawa ketika menonton lawakan srimulat sedangkan terhadapan lawakan lainnya pak amin tidak tertawa, maka perilaku pak amin memiliki keunikan tinggi (high distictiveness). Mengapa demikian ? karena pak amin konsisten hanya tertawa pada srimulat kepada lawakanlainnya meski juga lucune puoool, pak amin tidak tertawa, Cuma mesam mesem…uniq khan .

Kovariasi antar ke tiga factor di atas akan menentukan apakah perilaku seseorang akan diatribusikan sebagai atribusi internal (disebabkan oleh factor dari dalam diri, yakni sifat/dispoisi kepribadian) ataukah disebabkan factor di luar diri atau factor situasi.
Perilaku akan diatribusikan sebagai atribusi internal bila perilaku tersebut memiliki consensus yang rendah, konsistensi tinggi dan keunikan yang rendah. Coba anda perhatikan situasi berikut ini : saya tertawa menonton lawakan srimulat, orang lain tidak tertawa menonton srimulat (konsesnsus rendah). Saya selalu tertawa kapan saja saya menonton srimulat (kosistensi tinggi), dan saya selalu tertawa menonton pertunjukan lawak, tidak hanya srimulat tetapi juga kelompok dagelan lainnya (keunikan rendah). Menurut anda apa sebab saya tertawa. Apakah hal itu lebih disebabkan oleh karena sifat diri saya yang suka dengan lawak, atau karena srimulat yang membuat saya tertawa karena kecanggihan kemapuan srimulat dalam membuat saya tertawa. Tentu saja anda mengatakan karena saya seorang yang suka lawakan, bukan karena kecanggihan kemampuan srimulat dalam membuat saya tertawa. Saya akan tertawa menonton lawakan apa saja, tidak hanya srimulat. Jadi kesimpulannya pada situasi demikian orang akan mengatribusikan penyebab perilaku pada diri saya (atribusi internal)
Dalam situasi bagaimanakah orang akan mengatribusikan penyebab perilaku ke situasi di luar diri (atribusi ekternal). Yaitu bila perilaku ditandai dengan konsesus yang tinggi, konsistensi yang tinggi dan keunikan yang tinggi. Coba kita lihat situasi berikut ini. Saya tertawa menonton srimulat dan orang lain juga tertawa (konsesnsus tinggi), saya selalu tertawa menonton srimulat kapan saja (konsistensi tinggi), saya hanya tertawa menonton srimulat, sedangkan pada lawakanyang lain saya Cuma mesam mesem saja alias tidak tertawa ( keunikan tinggi).
Pada ilustrasi tadi, kira-kira apakah penyebab saya tertawa, apakah karena saya tipe orang yang suka tertawa, ataukah karena memang srimulatnya yang lucu. Dalam situasi demikian ini orang atau anda cenderung untuk mengatakan srimulatlah yang membuat saya tertawa, karena saya tidak tertawa menonton lawakan yang lainnya (atribusi ekternal).